28 agustus 2014.... Aku bersama seluruh angkatan 2011 mahasiswa/i akfar al-fatah bengkulu resmi di wisuda, meski ini late post karena kesibukan yang tak menentu...sekarang aku menyadari kalau moment2 sewaktu menjadi mahasiswa diAl-fatah sangat sulit dilupakan, dimana saat keributan dikelas, dari awalnya saling tak kenal sampai akhirnya menjadi sebuah keluarga...ingin rasanya waktu itu terulang kembali... entah mengapa saat menulis blog ini saya sangat merindukan suasana laboratorium farmasetika, ingat dimana saya belajar menimbang sediaan obat menggunakan timbangan gram manual yang nggak mudeng2 gunaiinnya, saya memecahkan lumpang dan wajib menggantinya, saya menghilangkan anak timbangan mg, kalau diingat masa itu saya sadar kalau saya ini benar2 ceroboh..hhahaa...teman yang selalu senantiasa membantu membuat jurnal setiap hari yang tak pernah dilupakan yaitu siapa lagi kalau bukan mutia afdhalita, ini sahabat yang benar-benar wajib diingat, ibarat pahlawan di setiap laboratorium..haha.. satu pengorbanan lagi yang sulit dilupakan waktu dilaboratorium farmakognosi, praktek saat itu yaitu tentang destilasi dimana kelompok kami harus mengambil minyak atsiri dari bunga kamboja dan kenanga.. diwajibkan sebelum praktek membawa sampel yang telah ditentukan..dan akhirnya kami berlima masuk ke TPU dekat kampus, tau kan TPU apa, yaa anda benar Tempat Pemakaman Umum, disana bnyak tumbuh hidup bunga kamboja dan bunga kenanga...sebelum memetik pamit dulu yaa...hhahaaa...dan tak terasa sekarang perjalanan ini telah selesai, dan kita berpisah dengan jalan hidup dan mimpi masing-masing.....namun sampai sekarang kalau bersama mutia, masih tetap karena kami melanjutkan kuliah lagi yang kebetulan satu kampus yang sama juga..semoga nanti kita bertemu lagi para alumni AKFAR AL-FATAH BENGKULU angkatan 2011..kita bertemu dengan keadaan yang sukses.......siapa tau diantara kita nantinya bakal jadi penerus direktur kampus ya...... mimpi yang baik...
yoppy mayrosa
Jumat, 10 Juli 2020
Kata Kunci Uji klinik Obat bagi pemula
1. CCT
atau RCT:
·
CCT: kuantifikasi efek terapetik dan
efek toksik obat baru well
design, level 2 of evidence,
·
RCT Uji Klinik fase III (terbanyak
pivotal), level 1 of evidence
(randomisasi)
2. Kriteria
subyek: inklusi dan eksklusi
Inklusi:
Subyek: sehat
Karakter
demografik: umur
Kriteria
Ekslusif: - Kontraindikasi:
hypersensitivity, pregnancy, dll. - Peringatan perhatian: peny. hati, peny. ginjal, elderly, dll. -
Masalah etik: anak, dll. - Masalah kepatuhan:
alkohol, dll.
3. Desain
studi: Studi observasional, Studi eksperimental (UK), Meta analisis,
Non-komparatif
(open study)
tanpa
kelompok kontrol
-
perbandingan sebelum dan sesudah pengobatan
Komparatif
dengan
kelompok kontrol : Plasebo dan Obat standar
perbandingan
antar pengobatan
4. Kelompok
kontrol: (kontrol 0/kontrol pasif), (kontrol positive/aktif : obat standar/
pembanding)
5. Alokasi
pasien: baseline, mencegah bias, menggunakan statistik
Intervensi: obat uji/control 1. double blind (buta ganda) → respons dan pengukurannya
tidak bias 2. single blind : pasien
blind (umum) atau investigator blind 3.
unblind : hanyaSEMOGA BERMANFAAT BAGI REVIEWer PEMULA..... :)
Rabu, 11 September 2013
Laporan Farmakognosi Semester IV
LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI
Dosen Pembimbing:
Luky Dharmayanti, S.farm, Apt
Linda Rahmayanti, Amd, Far
Kelompok 8
1. YOPPY MAYROSA (1140105)
AKADEMI FARMASI AL-FATAH BENGKULU
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
1. Sejarah Farmakognosi
Pada kurang lebih
2500 tahun sebelum masehi, penggunaan tanaman obat sudah dilakukan orang,
hal ini dapat diketahui dari lemp eng tanah liat yang tersimpan di
Perpustakaan Ashurbanipal di Assiria, yang memuat simplisia antara lain
kulit delima, opium, adas manis, madu, ragi, minyak jarak. Juga orang Yunani
kuno misalnya Hippocrates (1446 sebelum masehi),
seorang tabib telah mengenal kayu manis, hiosiamina, gentiana, kelembak,
gom arab, bunga kantil dan lainnya.
Pada tahun
1737 Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku
“Genera Plantarum” yang kemudian merupakan buku pedoman utama dari sistematik
botani, sedangkan farmakognosi modern mulai dirintis
oleh Martiuss. Seorang apoteker Jerman dalam bukunya
“Grundriss Der Pharmakognosie Des Planzenreisches” telah
menggolongkan simplisia menurut segi morfologi, cara- cara untuk
mengetahui kemurnian
simplisia.
Farmakognosi mulai
berkembang pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan masih terbatas pada uraian
makroskopis dan mikroskopis. Dan sampai dewasa ini perkembangannya sudah
sampai ke usaha- usaha isolasi, identifikasi dan juga teknik-teknik
kromatografi untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif.
Farmakognosi
adalah sebagai bagian biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa,
sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang diuraikan dalam
definisi Fluckiger. Sedangkan di Indonesia saat ini untuk praktikum
Farmakognosi hanya meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan
organoleptis yang seharusnya juga mencakup identifikasi,
isolasi dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam simplisia
dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan ke arah sintesa. Sebagai contoh :
Chloramphenicol dapat dibuat secara sintesa total, yang sebelumnya hanya dapat
diperoleh dari biakkan cendawan Streptomyces venezuela.
Alam memberikan
kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang
jika diadakan identifikasi dan menentukan sistimatikanya, maka diperoleh bahan
alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi,
dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap
pakai atau simplisia, disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.
Simplisia yang
diperoleh dapat berupa rajangan atau serbuk. Jika dilakukan uji khasiat,
diadakan pengujian toksisitas, uji pra klinik dan uji klinik untuk menentukan
fitofarmaka atau fitomedisin ; bahan – bahan fitofarmaka inilah yang disebut
obat. Bila dilakukan uji klinik, maka akan diperoleh obat jadi.
Serbuk dari
simplisia jika diekstraksi dengan menggunakan berbagai macam metode ekstraksi
dengan pemilihan pelarut , maka hasilnya disebut ekstrak. Apabila ekstrak yang
diperoleh ini diisolasi dengan pemisahan berbagai kromatografi, maka hasilnya
disebut isolat.
Jika isolat ini
dimurnikan, kemudian ditentukan sifat – sifat fisika dan kimiawinya akan
dihasilkan zat murni, yang selanjutnya dapat dilanjutkan penelitian tentang
identifikasi, karakterisasi, elusidasi struktur dan spektrofotometri.
Proses ekstraksi dari serbuk sampai diperoleh isolat bahan obat
dibicarakan dalam fitokimia dan analisis fitokimia. Bahan obat jika diadakan
uji toksisitas dan uji pra klinik akan didapatkan obat jadi. Mulai dari bahan
obat sampat didapatnya obat jadi dapat diuraikan dalam skema berikut :
Hubungan Farmakognosi Dengan Botani -
Zoologi
Simplisia
harus mempunyai identitas botani – zoologi yang pasti,
artinya harus diketahui dengan tepat nama latin tanaman atau hewan dari
mana simplisia tersebut diperoleh, misalnya : menurut Farmakope Indonesia
ditentukan bahwa untuk Kulit Kina harus diambil dari tanaman asal Cinchona
succirubra, sedangkan jenis kina terdapat banyak sekali , yang tidak
mempunyai kadar kina yang tinggi. Atas dasar pentingnya identitas botani –
zoologi maka nama –nama tanaman atau hewan dalam Farmakope selalu disebut
nama latin dan tidak dengan nama daerah, karena satu nama daerah
seringkali berlaku untuk lebih dari satu macam tanaman sehingga dengan
demikian nama daerah tidak selalu memberikan kepastian identitas. Dengan
demikian menetapkan identitas botani – zoologi secara tepat adalah langkah
pertama yang harus ditempuh sebelum melakukan kegiatan-kegiatan lainnya
dalam bidang farmakognosi.
Hubungan Farmakognosi Dengan Ilmu – Ilmu
Lain
Sebelum kimia
organik dikenal, simplisia merupakan bahan utama yang harus tersedia di tempat
meramu atau meracik obat dan umumnya diramu atau diracik sendiri
oleh tabib yang memeriksa sipenderita, sehingga dengan cara tersebut
Farmakognosi dianggap sebagai bagian dari Materia Medika. Simplisia
diapotik kemudian terdesak oleh perkembangan galenika, sehingga persediaan
simplisia di apotik digantikan dengan sediaan – sediaan galenik yaitu,
tingtur, ekstrak, anggur dan lain – lain.
Kemudian setelah
kimia organik berkembang, menyebabkan makin terdesaknya kedudukan
simplisia di apotik - apotik. Tetapi hal ini bukan berarti simplisia
tidak diperlukan lagi, hanya tempatnya tergeser ke pabrik - pabrik
farmasi, Tanpa adanya simplisia di apotik tidak akan terdapat
sediaan-sediaan galenik, zat kimia murni maupun sediaan bentuk lainnya,
misalnya: serbuk, tablet, ampul, contohnya: Injeksi Kinin
Antipirin, Secara sepintas Kinina antipirin dibuat secara sintetis tetapi
dari sediaan tersebut hanya Antipirin saja yang dibuat sintetis
sedangkan kinina hanya dapat diperoleh jika ada Kulit Kina, sedangkan untuk
mendapatkan kulit kina yang akan ditebang atau dikuliti adalah dari jenis
Cinchona yang dikehendaki. Untuk memperoleh jenis Cinchona yang dikehendaki
tidak mungkin diambil dari jenis Cinchona yang tumbuh liar, sehingga
harus ada cara pengumpulan dan perkebunan yang baik dan terpelihara. Dalam
perkebunan ini farmakognosi erat hubungannya dengan ilmu-ilmu lain misalnya:
Biokimia, dalam pembuatan zat-zat sintetis seperti Kortison, Hidrokortison dan
lain - lainnya.
Dari contoh -
contoh tersebut maka dapat diketahui bahwa ruang lingkup
Farmakognosi tidak terbatas pada pengetahuan tentang simplisia yang tertera
dalam Farmakope, tetapi meliputi pemanfaatan alam nabati- hewani dan
mineral dalam berbagai aspeknya di bidang farmasi dan Kesehatan. 1.
Simplisia
a.
Pengertian SimplisiaH
Simplisia
adalah bentuk jamak dari kata
simpleks yang berasal dari kata simple yang artinya satu atau sederhana.
Menurut Departemen Kesehatan RI simplisia adalah bahan alam yang digunakan
untuk obat yang belum mengalami proses apapun, kecuali dinyatakan lain umumnya
berupa bahan yang telah dikeringkan.
b. Macam-macam simplisia
1.
Simplisia nabati
Simplisia
nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat
tanaman, atau gabungan antara ketiganya. Misalnya Datura folium dan piperis
nigri fructus.
2.
Simplisia hewani
Simplisia
hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan
oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni. Contohnya oleum iecoris asselli
dan mell depuratum.
3.
Simplisia pelikan atau mineral
Simplisia
pelikan atau mineral yaitu simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang
belum duolah atau diolah secara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni.
Nama latin dari bagian simplisia yang digunakan
Amylum : Pati
Bulbus :
Umbi lapis
Caulis :
Batang
Cortex :
Kulit
Flos :
Bunga
Folium :
Bunga
Fructus :
Buah
Herba :
Seluruh tanaman
Lignum : Kayu
Radix :
Akar
Rhizoma :
Rimpang
Semen :
Biji
Faktor-faktor yang mempengaruhi simplisia
Ada dua faktor yang mempengarui kualitas simplisia, yaitu
faktor bahan baku dan proses pembuatannya.
1.
Bahan baku simplisia
Berdasarkan
bahan bakunya, simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar dan tanaman yang
dibudidayakan. Jika simplisia diambil dari tanaman yang dibudidayakan maka
keseragaman umur, masa panen, galur (asal usul, garis keturunan) tanaman dapat
dipantau. Sementara jika diambil dari tanaman liar maka banyak kendala dan
variabilitas yang tidak bias dikendalikan seperti asal tanaman, umur, dan
tempat tumbuh.
2.
Proses pembuatan simplisia
Dalam
proses pembutan simplisia ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Tahapan
tersebut meliputi:
a.
Pengumpulan bahan baku
Kualitas
bahan baku ditentukan oleh tahapan yang dilakukan dalam pengumpulan bahan baku
tersebut. Salah satu tahapan yang berperan dalam hal ini yaitu masa panen. Masa
panen dilakukan sesuai dengan tanaman yang akan digunakan, yaitu sebagai
berikut.
1)
Biji
Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai
mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah.
2)
Buah
Pengambilan
buah tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen buah bisa
dilakukan saat menjelang masak (misalnya Piper
ningrum), setelah benar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara
melihat perubahan warna/bentuk dari buah yang bersangkutan (misalnya jeruk,
papaya).
3)
Bunga
Pemanenan
bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan kandungan aktifnya, panen dapat
dilakukan pada saat menjelang penyerbukan, pada saat bunga masih kuncup
(seperti jasminum sambac) atau pada saat bunga sudah mulai mekar (seperti Rosa sinensis).
4)
Daun atau herba
Panen daun
atau herba dilakukan pada saat herba pada saat proses fotosintesis berlangsung
maksimal, yaitu ditandai dengan saat saat tanaman mulai berbunga atau buah
mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan pada saat warna pucuk
daun berubah menjadi daun tua.
5)
Kulit batang
Pemanenan
kulit batang hanya dilakukan pada tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen
yang paling baik adalah awal musim kemarau.
6)
Umbi lapis
Panen umbi
dilakukan pada saat akhir pertumbuhan.
7)
Rimpang
Panen
rimpang dilakukan pada saat awal musim kemarau.
8)
Akar
Panen akar
dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur.
Panen yang dilakukan terhadap akar umummnya akan mematikan tanaman yang
bersangkutan.
b.
Sortasi basah
Sortasi
basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi
dilakukan terhadap tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bagian tanaman lain atau
bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan bagian tanaman yang rusak.
c.
Pencucian
Pencucian
simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama
bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan bahan-bahan yang tercemar
pestisida. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air yang bersih (tidak
tercemar).
d.
Pengubahn bentuk
Tujuan
pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku.
Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Pengubahan
bentuk seperti perajangan (rimpang, daun, herba), pengupasan (buah, kayu, kulit
kayu, dan biji-bijian yang ukurannya besar), pemiprilan (jagung : biji
dipisahkan dari bonggolnya), pemotongan (akar, kayu, kulit kayu, dan ranting)
e.
Pengeringan
Pengeringan
simplisia bertujuan untuk menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak
mudah ditumbuhi kapang dan bakteri, menghilangkan aktivitas enzim yang bias
menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif, memudahkan dalam hal pengelolaan
proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya).
f.
Sortasi kering
Sortasi
kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan.
g.
Pengepakan dan penyimpanan
Setelah
semua tahapan diatas telah dilakukan, maka simplisianya disimpan didalam wadah.
Factor-faktor yang mempengaruhi pengepakan dan penyimpanan simplisia yaitu
cahaya, sirkulasi udara (O2), reaksi kimia yang terjadi antara
kandungan aktif tanaman dengan wadah, penyerapan air, kemungkinan terjadinya
prose dehidrasi, pengotoran dan atau pencemaran (baik yang diakibatkan oleh
serangga, kapang, bulu-bulu tikus atau binatang lain)
BAB I
AMILUM
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan
utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga
menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.
Pati
tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa
memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat
lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan
untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan.
Terminologi
Dalam
bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah
"pati" kerap dicampuradukkan dengan "tepung" serta "kanji". "Pati" (bahasa Inggris starch)
adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung
pati, karena ter-/dicampur dengan protein, pengawet, dan sebagainya. Tepung
beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lain-lain bahan yang
terkandung pada butir beras. Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan
campuran dua atau lebih pati. Kata 'tepung lebih berkaitan dengan komoditas
ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya
terjadi karena penerjemahan. Kata 'to starch' dari bahasa Inggris memang
berarti 'menganji' ('memberi kanji') dalam bahasa Melayu/Indonesia, karena yang
digunakan memang tepung kanji.
Kegunaan
Pati
digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan makanan cair seperti sup
dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran
kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika.
Biasanya
kanji dijual dalam bentuk tepung serbuk berwarna putih yang dibuat dari ubi kayu sebelum dicampurkan dengan air
hangat untuk digunakan.
Kanji
juga digunakan sebagai pengeras pakaian dengan menyemburkan larutan kanji cair
ke atas pakaian sebelum disetrika. Kanji juga digunakan sebagai bahan perekat
atau lem.
Selain
itu, serbuk kanji juga digunakan sebagai penyerap kelembapan, sebagai contoh,
serbuk kanji disapukan pada bagian kelangkang bayi untuk mengurangi
gatal-gatal. Kanji lebih efektif dibandingkan bedak bayi karena kanji menyerap
kelembapan dan menjaga agar pelapis senantiasa kering.
Galeri
Amilum
|
|
Sifat
|
|
(C6H10O5)n
|
|
Penampilan
|
bubuk putih
|
1.5 g/cm3
|
|
decomp.
|
|
Tidak
|
|
Bahaya
|
|
Indeks EU
|
not listed
|
410 °C
|
|
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa) |
|
Bintik pati
yang telah diberi iodin
Amylum manihot (pati
singkong) adalah pati yang diperoleh dari umbi akar manihotutilissima Pohl
(familia Euphorbiaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih, secara
mikroskopik berupa butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak butir kecil
dengan diameter 5µm sampai 10 µm, butir besar bergaris tengah 20 µm sampai 35
µm,hilus tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamella tidak
jelas, konsentris, butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir
tunggal yang tidak sama bentuknya.
Identifikasi kimiawi yaitu dengan Iodium dimana akan terjadi biru tua yang
hilang pada pemanasan dan timbul kembali pada pendinginan.
Amylum maydis (pati jagung) adalah pati yang diperoleh dari biji zea mays
L. (familiaPoaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara
mikroskopik yaitu berupa butir bersegi banyak, bersudut, ukuran 2-23 µm
atau butir bulat dengan diameter 25-32 µm, hilus ditengah berupa rongga yang
nyata atau celah berjumlah 2-5, tidak ada lamella. Jika diamati dibawah
cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam, memotong pada hilus.
Untuk identifikasi secara kimiawi sama dengan amylum manihot.
Amylum oryzae (pati beras) adalah amylum yang diperoleh dari biji Oryza
sativa L.(familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. Secara
mikroskopik yaitu berupa butir bersegi banyak ukuran 2-5 µm, tunggal atau
majemuk bentuk bulat telur ukuran 10-20 µm, hilus di tengah tidak
terlihat jelas, tidak ada lamella konsentris. Jika diamati dibawah cahaya
terpolarisasi tampak bentuk silang berwarna hitam, memotong pada hilus.
Amylum solani (pati kentang) adalah pati yang diperoleh dari umbi solanum
tuberosum (familia Solanaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih.
Secara mikroskopik yaitu berupa butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat
telur ukuran 30-100 µm atau membulat ukuran 10 µm sampai 35 µm, butir majemuk
jarang, terdiri dari 2 sampai 4, hilus berupa titik pada ujung yang sempit
dengan lamella konsentris jelas terlihat, jika diamati dibawah cahaya
terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam memotong pada hilus.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan, dan kegunaan, simplisia
harusmemenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.
Bahan baku simplisia
2.
Proses pembuatan
simplisia
3.
Cara pengepakan dan
penyimpan simplisia. Tahap-tahap pembuatan simplisia yaitu:
a.
Pengumpulan bahan baku
b.
Sortasi basah
c.
Pencucian
d.
Perajangan
e.
Pengeringan
f.
Sortasi kering
g.
Pengepakan dan
penyimpanan
h.
Pemeriksaan mutu.
Langganan:
Postingan (Atom)


